Langsung ke konten utama

Feature Perbandingan

Bersyukurlah
(Foto: Fitri)
http://writerspapitri.blogspot.co.id/

Pagi, siang, malam, tak mengurungkan niat kami untuk menyusuri kendaraan – kendaraan yang berhenti pada saat lampu lalu lintas berwarna merah dengan alat musik yang sangat sederhana. Ada yang terbuat dari botol plastik bekas yang diisi beras, ada yang menggunakan sepotong kayu dan dipakaikan bagian ujungnya dengan menggunakan tutup botol bekas. Bahkan, kami juga bernyanyi di dalam kendaraan umum. Kami juga tak kenal lelah, terik matahari yang membuat kulit hitam yang amat menyilaukan mata, juga tak kami hiraukan.
Padahal dalam sehari belum tentu mendapatkan uang yang cukup. Tapi kami tetap berusaha untuk mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari. Saya, harusnya bersyukur karena tidak mengalami hal seperti itu. Tidak berpanas-panasan, tidak bernyanyi untuk mendapatkan koin-koin yang jumlahnya tak menentu, bisa bersekolah, bermain tanpa harus memikirkan nanti harus makan apa.
Terkadang, saya bisanya hanya menghambur – hamburkan uang saja. Tak melihat bagaimana kedua orangtua jungkir balik mencari nafkah untuk saya. Mencari nafkah untuk membiayai sekolah dan semua – muanya. Kami yang hidup dijalanan, tanpa orangtua, bahkan ada yang tidak bersekolah terkadang masih bisa tertawa bersama. Jadi, saya sangat bersyukr tidak hidup seperti mereka(anak jalanan), masih pumya tempat tinggal, orang tua yang membiayai kehidupannya dan berterimakasih pada Tuhan dan orangtua.

Komentar

Posting Komentar

Postingan

Feature Olah Rasa

Hidupku Ada di Mesin Jahit (Foto : Fitri) http://writerspapitri.blogspot.co.id/2017/09/feature-olah-rasa.html Singsing mentari yang semakin meninggi menunjukan seperempat waktu dari terbitnya sebelum kembali kedekapan senja. Meski sudah pukul sembilan pagi, namun cahayanya cukup menciptakan gerah yang mengusik kenyaman. Jalan demi jalan ditelusurinya, gang demi gang di masukinya, kampung demi kampung ia teriaki dengan sepeda motor. Terik matahari yang dapat mnghanguskan kulit tak lagi menjadi halangan untuk meneruskan pekerjaannya, menawarkan dagangan yang berbentuk jasa. Demi mencari nafkah untuk keluarga kecilnya ia rela berputar-putar dan  berteriak “Jaittt…   Jaittt…   Jaittt…!”. Dialah Asep Syaifuloh, berasal dari Karawang. Di usianya yang tergolong masih muda yaitu 26 tahun, ia tetap bekerja keras demi istri dan anaknya. Tetesan keringat yang bercucuran membasahi wajah dan seluruh tubuhnya tak lagi ia hiraukan. Ia memiliki seorang...

Feature Olah Rasa

Readers, aku mau posting tentang feature lagi nih, feature olah rasa yang ke 2. Sebelumnya berjudul Hidupku Ada di Mesin Jahit . Oiya tulisan ini juga udah dimuat loh, di cnnindonesia.com, rubrik student. Semoga bermanfaat & selamat membaca! 😊 Ibu, Kau Segalanya Bagiku Ilustrasi (Foto: yc0407206360/Pixabay) Jakarta, CNN Indonesia  -- Aku tak bisa hidup jika bukan karena kehendak Sang Pencipta dan perjuangan seorang ibu yang dianugrahi untuk merawatku. Bagiku ibu adalah segalanya. Kasih sayangnya yang tak terbatas bagai jurang tanpa dasar atau bumi yang tak berujung. Ibu juga bagai malaikat tanpa sayap. Tangis kesakitan di tengah malam, membelah kesunyian dan udara dingin yang menusuk kulit. Ibu mempertaruhkan nyawa untukku, walau harus mempertaruhkan hidup dan matinya. Rasa sakit yang tak terbayangkan terkalahkan oleh kebahagiaan saat terdengar suara bayi kecil nan mungil menangis. Aku adalah anak perempuan pertama dari empat bersaudara dan seka...

Raksasa Bali yang Labil

ilustrasi : dibuat sendiri oleh penulis Saat ini Gunung Agung, akan erupsi sedang jadi pusat perhatian orang banyak, di Indonesia maupun luar negeri. Bahkan media-media luar negeri juga menjadikan Gunung Agung sebagai bahan pemberitaan. karena statusnya yang sedang aktif (awas). Gunung ini juga berada di pulau yang sering dikunjung oleh turis lokal ataupun turis asing karena keindahan alamnya (wisata) yang luar biasa. Gunung Agung terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Gunung itu juga gunung tertinggi di Pulau Bali dengan ketinggian sekitar 3.142 mdpl (meter diatas permukaan laut), bisa disebut juga gunung raksasa di Pulau Bali. Beberapa waktu lalu Gunung Agung dinyatakan berstatus awas atau Level IV dan tak lama terdengar kabar, bahwa gunung tersebut turun statusnya, dari awas menjadi siaga (Level III). Gunung raksasa itu terlihat labil, sebab statusnya yang bergonta-ganti. Pasti penduduk yang tinggal di sekitar Gunung Agung binggung...