Langsung ke konten utama

Raksasa Bali yang Labil

ilustrasi : dibuat sendiri oleh penulis

Saat ini Gunung Agung, akan erupsi sedang jadi pusat perhatian orang banyak, di Indonesia maupun luar negeri. Bahkan media-media luar negeri juga menjadikan Gunung Agung sebagai bahan pemberitaan. karena statusnya yang sedang aktif (awas). Gunung ini juga berada di pulau yang sering dikunjung oleh turis lokal ataupun turis asing karena keindahan alamnya (wisata) yang luar biasa.

Gunung Agung terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Gunung itu juga gunung tertinggi di Pulau Bali dengan ketinggian sekitar 3.142 mdpl (meter diatas permukaan laut), bisa disebut juga gunung raksasa di Pulau Bali.

Beberapa waktu lalu Gunung Agung dinyatakan berstatus awas atau Level IV dan tak lama terdengar kabar, bahwa gunung tersebut turun statusnya, dari awas menjadi siaga (Level III).

Gunung raksasa itu terlihat labil, sebab statusnya yang bergonta-ganti. Pasti penduduk yang tinggal di sekitar Gunung Agung binggung, harus mengungsi atau menetap di rumahnya.

Sempat terdengar kabar burung, bahwa penyebab kemarahan Gunung Agung salah satunya adalah ulah para turis asing yang tak senonoh.

Salah satu jurnalis dari media Australia, mewawancarai Jaya, seorang pedanda (pendeta) dari Banjar Muntig, Bali. Dalam wawancara tersebut, Jaya mengatakan, Gunung Agung marah karena ulah para turis kulit putih dan saat para turis mendaki gunung mereka tak bersikap santun saat berada di Gunung Agung. Para turis itu, berhubungan intim di atas gunung, seperti yang penulis baca di http://travel.tribunnews.com/2017/09/30/2-ulah-tak-santun-turis-asing-ini-disebut-jadi-penyebab-kemarahan-gunung-agung-bali.

Hubungan seks di luar nikah memang dilarang oleh banyak ajaran beragama. Hal itu dianggap sebagai perbuatan kotor yang berdampak buruk. Bahkan, bagi penganut Hindu di Bali, hubungan seks di luar nikah dipercaya jadi salah satu pemicu meletusnya Gunung Agung. 

Namun, para ahli vulkanologi mengatakan, Gunung Agung di Bali memiliki kecenderungan lebih besar untuk meletus, tetapi karena setiap gunung memiliki karakteristiknya tersendiri, para ahli tidak bisa memprediksikan kapan hal tersebut (meletus) akan terjadi.

Gunung itu pernah 4 kali meletus sejak tahun 1800. Empat kali letusan itu terjadi pada 1808, 1821, 1843, dan terakhir adalah pada 1963.

Seperti yang penulis baca di http://regional.liputan6.com/read/3112998/kata-pvmbg-andai-gunung-agung-meletus-sekarang, Bahwa Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih memantau gerak-gerik Gunung Agung.

Sampai hari ini Minggu, (10/29/17) Raksasa belum mengeluarkan amarahnya. Apakah tahun ini Gunung Agung akan meletus untuk yang kelima kalinya?




Komentar

  1. Cara penulisan yang cukup bagus. Semangat dan sukses terus ya

    BalasHapus
  2. Galih lagi ya potensi kamu, terus semangat 😍

    BalasHapus
  3. Lucu ilustrasinya :)) buatkan aku dong kak

    BalasHapus
  4. Makasih fitri atas infonya.. Semoga aja penduduk di sana terlindungi 🌹🌹 . Aamiin

    BalasHapus
  5. Semoga gunungnya cepat stabil :)

    BalasHapus
  6. Tulisannya bagus. Apalagi gambarnya, Duh super niat nih penulisnya sampe bikin gambar pake illustrator ya, Mbak? Hehehe

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. tulisan yang bagus dan sangat informatif. terima kasih fitrii! jangan lupa mampir ke blogku juga yaaa annisamahfai.blogspot.com hehehe

    BalasHapus
  9. Terima kasih fitri artikelnya sangat mengedukasi! Ur blog is so catchy and cute! (bcs i love pink^^)
    Nice work!

    BalasHapus
  10. Mau sampe kapan gunung agung labil yaa, thankyou fitri infonyaa

    BalasHapus
  11. Mau sampe kapan gunung agung labil yaa, thankyou fitri infonyaa

    BalasHapus
  12. Keren, bule-bule wajib baca nih! (pake versi english misalnya hihi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Sri Hudawati, iya mereka wajib baca hihi

      Hapus
  13. wahh.. kirain gunung agung cuma na toko buku ajaa :p

    Nice infoo fitt!

    BalasHapus
  14. Gunung bisa labil juga dong hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan

Feature Olah Rasa

Hidupku Ada di Mesin Jahit (Foto : Fitri) http://writerspapitri.blogspot.co.id/2017/09/feature-olah-rasa.html Singsing mentari yang semakin meninggi menunjukan seperempat waktu dari terbitnya sebelum kembali kedekapan senja. Meski sudah pukul sembilan pagi, namun cahayanya cukup menciptakan gerah yang mengusik kenyaman. Jalan demi jalan ditelusurinya, gang demi gang di masukinya, kampung demi kampung ia teriaki dengan sepeda motor. Terik matahari yang dapat mnghanguskan kulit tak lagi menjadi halangan untuk meneruskan pekerjaannya, menawarkan dagangan yang berbentuk jasa. Demi mencari nafkah untuk keluarga kecilnya ia rela berputar-putar dan  berteriak “Jaittt…   Jaittt…   Jaittt…!”. Dialah Asep Syaifuloh, berasal dari Karawang. Di usianya yang tergolong masih muda yaitu 26 tahun, ia tetap bekerja keras demi istri dan anaknya. Tetesan keringat yang bercucuran membasahi wajah dan seluruh tubuhnya tak lagi ia hiraukan. Ia memiliki seorang...

Feature Olah Rasa

Readers, aku mau posting tentang feature lagi nih, feature olah rasa yang ke 2. Sebelumnya berjudul Hidupku Ada di Mesin Jahit . Oiya tulisan ini juga udah dimuat loh, di cnnindonesia.com, rubrik student. Semoga bermanfaat & selamat membaca! 😊 Ibu, Kau Segalanya Bagiku Ilustrasi (Foto: yc0407206360/Pixabay) Jakarta, CNN Indonesia  -- Aku tak bisa hidup jika bukan karena kehendak Sang Pencipta dan perjuangan seorang ibu yang dianugrahi untuk merawatku. Bagiku ibu adalah segalanya. Kasih sayangnya yang tak terbatas bagai jurang tanpa dasar atau bumi yang tak berujung. Ibu juga bagai malaikat tanpa sayap. Tangis kesakitan di tengah malam, membelah kesunyian dan udara dingin yang menusuk kulit. Ibu mempertaruhkan nyawa untukku, walau harus mempertaruhkan hidup dan matinya. Rasa sakit yang tak terbayangkan terkalahkan oleh kebahagiaan saat terdengar suara bayi kecil nan mungil menangis. Aku adalah anak perempuan pertama dari empat bersaudara dan seka...