Readers, aku mau posting tentang feature lagi nih, feature olah rasa yang ke 2. Sebelumnya berjudul Hidupku Ada di Mesin Jahit. Oiya tulisan ini juga udah dimuat loh, di cnnindonesia.com, rubrik student. Semoga bermanfaat & selamat membaca! 😊
Ibu,
Kau Segalanya Bagiku
![]() |
| Ilustrasi (Foto: yc0407206360/Pixabay) |
Jakarta, CNN
Indonesia -- Aku tak bisa hidup jika
bukan karena kehendak Sang Pencipta dan perjuangan seorang ibu yang dianugrahi
untuk merawatku. Bagiku ibu adalah segalanya. Kasih sayangnya yang tak terbatas
bagai jurang tanpa dasar atau bumi yang tak berujung. Ibu juga bagai malaikat
tanpa sayap.
Tangis kesakitan di tengah malam, membelah kesunyian dan udara dingin yang
menusuk kulit. Ibu mempertaruhkan nyawa untukku, walau harus mempertaruhkan
hidup dan matinya. Rasa sakit yang tak terbayangkan terkalahkan oleh
kebahagiaan saat terdengar suara bayi kecil nan mungil menangis.
Aku adalah anak perempuan pertama dari empat bersaudara dan sekaligus menjadi
anak pertama yang mewarnai kehidupannya setelah ibu dan bapak menikah. Karena
itulah membuatku begitu diperhatikan dan dimanja sebelum ketiga saudaraku
lahir. Semenjak aku lahir, hari-harinya penuh warna. Tawa, canda, dan tingkah
lakuku yang menggemaskan menghiasi keluarga kecilnya.
Ibu adalah sosok malaikat tanpa sayap yang selalu bangun tidur lebih awal dari
seluruh anggota keluarga di rumah. Pahlawan tanpa pamrih bagi anak-anaknya.
Guru terbaik dari seluruh guru yang ada. Pembantu yang tak pernah meminta
dibayar sepeser pun. Pelayan yang sangat tulus melayani keluarga. Baby sitter
yang paling setia. Dokter yang paling telaten merawat keluarga.
Ibu juga bisa jadi koki yang andal bagi keluarganya. Body Guard yang sangat
kuat untuk anaknya dan wanita karier yang sangat lihai mencari nafkah untuk
keluarganya. Terkadang, ibuku bisa menjadi harimau yang mampu mengeluarkan
taringnya agar tidak ada yang bisa mengganggu anak-anaknya.
Rasa kantuk dan lelah yang menyerangnya tak lagi dihiraukan. Ia terus menguap
hingga tanpa sadar mata terpejam. Ketika sedang pulas-pulasnya ia tertidur, aku
yang masih sangat mungil menangis. Ibu tersentak dan mau tak mau harus bangun
dari mimpi indahnya.
Saat aku lahir, bapakku menjadi kepala keluarga. Ia sangat gencar mencari
nafkah kesana kemari. Ibuku hanya menjadi ibu rumah tangga dan bekerja sambilan
untuk membantu bapak. Tetapi saat adik ketigaku lahir, bapakku memutuskan untuk
tak bekerja lagi, hanya bersenang-senang saja. Pekerjaannya hanya memenuhi
kesenangan dirinya sendiri seperti main karambol, main burung dara, dan
memancing.
Ketika aku tumbuh remaja ibuku lah yang bekerja untuk mencari nafkah, dengan
berdagang sayur-mayur di rumah. Bapakku hanya membantu menjajarkan dagangannya
saja. Entah mengapa ia tidak mau bekerja lagi.
Pernah kudengar pembicaraan mereka, “Pak, cari kerja sana, anakmu kan butuh
biaya buat sekolah”, ujar ibuku. Mendengar ibuku berbicara seperti itu, bapakku
hanya berdiam saja. Aku tak mengerti apa yang dipikirkannya.
Sejak ibuku menjadi wanita karier yang mencari nafkah dan sekaligus menjadi ibu
rumah tangga, sikapku mulai berubah. Dari yang malas-malasan menjadi lebih
rajin, yang tadinya sering main jadi jarang main, dari yang tadinya suka
menghambur-hamburkan uang menjadi belajar menghemat uang dan mencoba
memperbaiki perilaku yang terkadang membuatnya kecewa dan sedih. Aku juga mulai
membantu sebisa yang aku bisa untuk mengurangi beban berat di pundaknya.
Pernah suatu malam saat kuterbangun dari tidurku, aku mendengar ibu sedang
berdoa kepada Tuhan dengan kedua tangan menadah dan suara isak tangis. Ibu
berdoa agar Tuhan menjaga, melindungi, memberiku kesehatan, dan mendoakan
kesuksesanku nanti agar aku hidup tidak seperti kedua orang tuanya yang serba
kesulitan.
Saat mendengarnya tubuhku bergetar, hatiku tersentak, dan tiba-tiba air mataku
menetes begitu saja. Aku tak bisa berkata-kata yang kulakukan selama ini hanya
membuatnya menangis dan membuat hatinya sakit. Maafkan aku ya Tuhan. Aku tak
bisa membayangkan sebesar dan seberat apa beban yang kau pikul ibu. Aku akan
patuhi semua perintah dan membantumu semampuku untuk bisa mengurangi bebanmu.
Walau bebanmu yang berat, tetap saja aku tak pernah kekurangan kasih sayangmu.
Ibu rela tidak makan demi anak-anaknya supaya anak-anaknya dapat makan. Ibu
juga rela tidur hanya dengan beralas karpet tipis supaya anak-anaknya tidur di
kasur dengan nyaman. Bahkan, ibu rela tak tidur demi menjaga anaknya agar
anaknya tidak diganggu oleh nyamuk.
Oh ibu, betapa kuat dan tabahnya kau hingga rela melakukan apa saja untukku
supaya bisa membuatku merasa bahagia.
Belakangan ini ibu lebih gemar marah-marah daripada tertawa. Mungkin, ia
kelelahan karena sudah mencari uang dan menghadapi aku yang seenaknya sendiri
dan sulit jika diminta tolong olehnya. Maafkan aku ibu, yang terkadang
mengabaikan semua kemauanmu.
Terkadang melihat senyum dan tawamu saja sudah membuat hatiku luluh, seperti es
krim yang diletakkan dibawah sinar matahari terik.
Saat aku berbicara dengan hatiku, aku berjanji akan menjadi orang yang sukses
untuk membuatmu bahagia dan membuatmu lebih banyak tersenyum dan tertawa
daripada mengeluh atau marah-marah, Ibu.
Aku belum bisa membahagiakan ibu yang telah melahirkanku. Hanya kata maaf yang
bisa kusampaikan kepada ibuku atas semua perbuatanku yang membuatnya kecewa dan
menangis. Ibu, terimakasih karena telah melahirkanku, menjagaku, merawatku,
mendidikku, dan untuk semua kasih sayang yang telah kau berikan.
Memang aku tidak bisa mengganti dan membalas semua jasa dan waktu yang kau
habiskan untukku Ibu. Tetapi aku akan berusaha menjadi apa yang ibu harapkan
dan semoga kebaikan dan jasa-jasamu dibalas oleh Sang Maha Pencipta. Aku
menyayangimu Ibu, you are my everything.
Link tulisan di atas :

Wah hebat udh di muat di salah satu media besar 👍
BalasHapusWah hebat udh di muat di salah satu media besar 👍
BalasHapusmantab..jempolku untukmu gan '-')b
BalasHapuswah, makasih loh ka jempolnya
Hapus