Menunggu Lagi,
Menunggu Mulu, Menunggu Terus
![]() |
| (Foto : Google) |
Suatu
sore, seorang wanita duduk di bangku depan Gedung Sipil PNJ sedang memainkan
gadgetnya dengan jari-jarinya yang lentik. Tak lama orang yang ditunggu-tunggu
pun datang.
“Hai,
udah lama ya? Maaf ya bikin kamu nunggu lama,” sapa seseorang pria sambil duduk
di samping wanita itu.
Sambil
cemberut wanita itu berkata “Iya, gapapa udah biasa kok.”
Ya,
pria itu adalah Daniel, dia mahasiswa tingkat akhir dan suka sekali
berorganisasi dan aku Yoona, mahasiswa tingkat dua. Kami berpacaran sejak aku
semester satu. Ketika aku sedang PKKP (Pengenalan Kehidupan Kampus Politeknik)
dia menembakku, katanya sih pandangan pertama gitu dan karena dia cool nan tampan makanya, aku terima.
hehe
Memang
dia itu sangat menyebalkan tapi untunggnya aku sayang, jadi ya mau gimana lagi.
“Yaudah
yuk, langsung pulang aja.” ujar Daniel.
“Emmmm…,”
aku menjawab, sambil berdiri memasukkan barang-barangku ke dalam tas.
“Ihhh,
udah dong jangan ngambek, tadi soalnya ada rapat mendadak, aku mau langsung
balik tapi gak enak sama yang lain. Biar kamu gak ngambek lagi, aku traktir es
krim deh ya?” goda Daniel.
“Engga
kok, aku gak ngambek.” balasku dalam keadaan muka di tekuk.
Sesampainya
di parkiran, kami berdua langsung menuju ke salah satu toko es krim terdekat.
“Kamu
mau beli yang mana? Ambil aja yang kamu mau, aku lagi dapat rezeki nih,” tanya Daniel
dengan senyum indah di bibirnya.
“Yang
bener?” tanyaku balik.
“Iya
bener, udah ambil aja apa yang kamu mau. Buat kamu apa sih yang engga,” goda Daniel.
“Asikkk.
Makasih Daniel sayang.” jawabku sambil melahap es krim di tanganku.
Setelah
menghabiskan es krim. Aku dan Daniel pun langsung pulang ke rumah.
***
Keesokan
harinya
“Aku
udah di Pasar Minggu nih, kamu di mana? Ko kamu gak nyampe-nyampe?” tulisku dalam
gadget yang ditunjukan kepada Daniel.
Sudah
beberapa menit menunggu, tetapi Daniel belum kelihatan batang hidungnya sedikit
pun. Padahal jam sudah menunjukan pukul 08.15 WIB. Dan aku ada kelas jam 09.30.
“Huh,
dasar Daniel, selalu saja terlambat,” umpatku dalam hati.
Setelah
beberapa menit, Daniel datang dengan mobil mewahnya. Mengedipkan lampu mobilnya
dan menyuruhku masuk.
“Kamu
lewat mana sih? Ko lama banget? Udah jam berapa nih, aku bisa telat matkul Pak
Ade,” ujarku dengan nada sinis dan bibir monyong dua senti alias manyun.
“Masih
pagi udah marah-marah aja, nanti caktiknya ilang loh,” goda Daniel untuk yang
kesekian kalinya.
“Ih
apaan si, adanya kamu tuh, masih pagi udah ngegombal aja,” jawabku sambil
melipat tanganjku di depan dada.
Dengan
senyum manisnya Daniel berkata “Aku serius, gak boong tau. Yaudah deh aku
ngebut nih.”
Daniel
langsung menginjak pedal gas mobilnya hingga angka 100 Km/jam.
“Eh
Daniel, Daniel jangan ngebut-ngebut. Kalo kita mati gimana?” protesku.
“Ya
gakpapa, matinya berdua ini,” kata Daniel dengan diikuti tawa kecil.
Ya,
begitulah Daniel, suka sekali menggodaku dan menggombaliku.
Setelah
sesampainya di kampus aku langsung lari menuju kelasku, karena sudah terlambat
dan Pak Ade tidak suka sekali dengan orang yang terlambat. Makanya, aku berlari
sekuat tenanga.
Sesampainya
di kelas dengan napas yang terengah-engah. Muel, ketua kelas di kelasku bilang
bahwa matkul Pak Ade libur selama beberapa hari. Pak Ade tidak masuk kelas
karena beliau ingin mengikuti seminar di Korea. Alhhasil kelas libur dalam
beberapa hari. Huh senang sekali rasanya, matkul dia libur.
***
Sore
harinya
“Kamu
di mana Niel? Makan yuk, aku laper,” tanyaku lewat chat WhatsApp kepada Daniel.
Akhirnya
karena kesel, ya aku ping ping-in aja. Gimana gak kesel, aku udah nungguin dia
dari setengah jam yang lalu di Kantek sendirian dan dia gak bales chatnya.
Setelah
beberapa menit kemudian, Daniel belum juga membalas pesanku. Karna perutku
sudah berbunyi terus dari tadi akhirnya, aku memesan makanan duluan.
Aku
memesan gado-gado, makanan favoritku. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya
makananku datang, langsung saja aku melahapnya dengan cepat dan tidak lupa
berdoa sebelum makan.
Setelahku
menghabiskan makananku hingga bersih, akupun mengecek gadget. Ternyata ada
pesan dari Daniel. Pesan itu menyuruhku datang ke ruang kelasnya. Setelah
mengetik “oke” dan menekan tombol send. Aku
langsung bergegas menuju kelasnya.
Sesampainya
di kelasnya aku menaruh mataku di sela-sela jendela kelasnya untuk melihat
apakah benar Daniel ada di sini. Tapi ruangan itu sangat gelap, jadi aku tak
bisa melihat apapun.
Tanpa
pikir panjang lagi aku membuka pintu ruangan itu, dan terdengan suara “Happy
Birthday Yoona,” teriak Daniel dan teman-temannya.
Air
mataku mengalir begitu saja dan senyum manis tergambar dari bibirku. Tak
mengira hari ini hari ulang tahunku dan Daniel membuat kejutan seperti ini
untukku. Sungguh aku bener-bener terharu dibuatnya.
-The
end-

Wkwkwk
BalasHapusIni seperti pengalaman pribadi penulis
HEHEEH
Hapusaku terpana~
BalasHapusMenarik. Ini dari kisah nyata penulis?
BalasHapusada sedikit ka :D HEHE
HapusIya hehe ketauan bngt ya ka?
BalasHapuslain kali aku bakal nulis yang lebih bagus lagi deh, btw makasih komentarnya :)