Langsung ke konten utama

Feature Olah Rasa


Hidupku Ada di Mesin Jahit


(Foto : Fitri)
http://writerspapitri.blogspot.co.id/2017/09/feature-olah-rasa.html

Singsing mentari yang semakin meninggi menunjukan seperempat waktu dari terbitnya sebelum kembali kedekapan senja. Meski sudah pukul sembilan pagi, namun cahayanya cukup menciptakan gerah yang mengusik kenyaman. Jalan demi jalan ditelusurinya, gang demi gang di masukinya, kampung demi kampung ia teriaki dengan sepeda motor.

Terik matahari yang dapat mnghanguskan kulit tak lagi menjadi halangan untuk meneruskan pekerjaannya, menawarkan dagangan yang berbentuk jasa.
Demi mencari nafkah untuk keluarga kecilnya ia rela berputar-putar dan  berteriak “Jaittt…   Jaittt…   Jaittt…!”. Dialah Asep Syaifuloh, berasal dari Karawang. Di usianya yang tergolong masih muda yaitu 26 tahun, ia tetap bekerja keras demi istri dan anaknya. Tetesan keringat yang bercucuran membasahi wajah dan seluruh tubuhnya tak lagi ia hiraukan.

Ia memiliki seorang istri yang bernama Sutiyanti dan mempunyai tiga orang anak yang masih terbilang kecil. Sepak terjal angkuhnya roda kehidupan ini Asep lalui, ia hanya bekerja sebagai jasa vermak levis yang telah dilakoninya selama 4 tahun lebih. Ditambah pengalamannya sebagai konveksi.

Bekerja banting tulang seperti ini harus mampu Asep lakukan hingga matahari mulai terbenam dan suara adzan berkumandang dengan merdunya. Penghasilan Asep yang tak seberapa, tak mencukupi kebutuhan biaya rumah tangganya. “Kalo nuntut cukup sih, ya cukup-cukupin,” ujar Asep.

Pekerjaan Asep sebagai vermak levis juga menuntut sebuah kesabaran yang amat tinggi. Jasanya hanya dibutuhkan pada saat ada pakaian yang rusak. Berjalan sepanjang sepeda motor melaju, berkilo-kilo jarak yang ia tempuh untuk mendapatkan pelanggannya. Belum lagi jika ada pelanggan yang bernegosiasi dengannya.

Menunggu, menunggu, menunggu hanya itu yang bisa ia lakukan saat tangan, kaki & sekujur tubuh sudah lelah berputar – putar di gang – gang yang sempit. Jika ada pelanggan yang memanggil, barulah ia bisa mendapatkan uang.

Zaman yang semakin berkembang membuat orang semakin sulit untuk menemukan jasa vermak levis keliling. Harga baju yang semakin lama semakin murah, butik/kios-kios yang menyediakan jasa vermak semakin banyak juga mengurangi penghasilannya, karena itulah mendorong Asep harus lebih gencar mencari nafkah.

Sesekali ia bertemu teman senasibnya yang menggunakan gerobak. Asep memilih menunggangi sepeda motornya karena agar bisa melaju lebih jauh lagi.
Asep sangat suka jika pelanggan yang membutuhkan jasanya banyak. Tetapi di zaman yang sekarang orang yang membutuhkannya juga semakin sedikit. Saat musim hujan turun, Asep berubah menjadi patung, karena tidak ada pelanggan yang memerlukan jasanya.

Meski dengan penghasilan yang tidak menentu, tetapi Asep tetap memilih menjadi jasa vermak levis keliling, karena dituntut kebutuhan keluarga sehari-harinya. Dari pekerjaannya inilah ia menghidupi istri dan anak – anaknya sebagai penjahit vermak levis keliling.

Komentar

  1. lebih bagus lagi kalau diberi penjelasan mengenai feature olah rasa itu apa. jadi, pembaca pun bisa langsung paham.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih masukkannya. akan saya perbaiki :)

      Hapus
  2. Jadi lebih tau gimana rasanya jadi tukang jait keliling. Makasih loh infonya

    BalasHapus

Posting Komentar