Langsung ke konten utama

Feature Olah Fakta

Hai, readers! aku mau nunjukin tulisan baru aku nih, kali ini berbeda dengan post-an sebelumnya tentang Feature Olah Rasa, sekarang aku mau nunjukin contoh Feature Olah Fakta. Yuk, simak baik-baik!

Pasar Tatap Muka

http://writerspapitri.blogspot.co.id/2017/09/fearure-olah-fakta.html

Tempat yang tak asing bagi masyarakat Indonesia. Setiap hari selalu ramai dikunjungi pembeli. Tempat berinteraksi langsung antara penjual dan pembeli. Tempat terjadinya proses jual beli dan tawar-menawar. Tak heran banyak yang lebih memilih belanja di pasar tradisional daripada pasar modern.

Pasar tradisional biasanya identik dengan kotor, becek, bau, dan menjijikan. Namun di balik itu semua, pasar tradisional tetap memiliki banyak pelanggan yang memadati pasar setiap harinya. Entah ibu rumah tangga, asisten rumah tangga, maupun pedagang sayur, yang membeli untuk menjualnya kembali di tempat lain. Ketika datang ke pasar tradisional akan disambut oleh para pedagang yang menawarkan dagangannya.

Pasar Minggu, sama seperti pasar lainnya menjual berbagai macam barang. Mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, ikan, beras, daging, telur, pakaian, kosmetik dan lain-lain. Selain pembeli dan pedagang, di pasar kita temukan pula penjual asongan, jasa permak levis, penjual kantung plastik, penyedia jasa kuli angkut, maupun pengemis dan pengamen. Bahkan tak jauh dari pasar, terdapat stasuin dan terminal bus. Sehingga tidak heran, pasar selalu ramai.

Pasar ini memiliki tiga lantai. Lantai satu diisi oleh pedagang buah, sayur, ikan, beras, perabot rumah tangga, pakaian dan lain-lain. Bisa dibilang lantai satu pasar berisi penjual barang kebutuhan pokok. Lantai dua berisi pedagang, mainan, kosmetik, baju, tas, sepatu, dan lain-lain. Sedangkan lantai tiga hanya berisi masjid yang cukup luas.

Tempat dagang yang terbatas membuat pedagang yang lain membuka dagangannya di luar gedung atau di bahu-bahu jalan. Seperti Giyanto (48), salah satu pedagang yang berjualan di bahu jalan. Ia berdagang di bahu jalan karena tidak dapat tempat di dalam gedung. Ia datang telat saat pendataan untuk berjualan di dalam gedung. “Engga, itu data dari dulu, dari awal,” ujar Giyanto.

Ada beberapa tempat parkir yang dimiliki pasar ini. Tetapi yang resmi hanya ada dua tempat parkir. Bagian pertama disediakan untuk mobil dan sepeda motor. Bagian kedua diperuntukan hanya untuk sepeda motor. Selebihnya parkiran ilegal, karena tidak ada kartu tanda parkir atau karcis masuk tanda parkir dan letaknya yang di bahu-bahu jalan.

Pedagang dan pembeli dari berbagai macam daerah dan berbagai macam karakter. Ada pembeli yang sering berbelanja, ada yang jarang berbelanja, bahkan ada pembeli yang tidak pernah belanja di pasar tradisional, seperti Sapun, ia lebih memilih berbelanja kebutuhan rumah tangganya di pasar modern karena pasar modern tidak becek dan lebih nyaman daripada pasar tradisional.

Salah satu pembeli yang sering berbelanja di pasar ini adalah Ngatmiyati (44). Ibu empat anak ini hampir setiap hari berbelanja di Pasar Minggu. Alasan utamanya adalah karena letaknya tak jauh dari rumah. “Setiap hari saya ke sini, soalnya barang yang saya beli saya jual kembali dirumah,” ujarnya sehabis berbelanja kebutuhan warungnya. Ngatmiyati memiliki warung kelontong dirumahnya. Hampir semua barang dagangannya di beli di Pasar Minggu.

Ibu Wanah (47), yang jarang berbelanja di Pasar Minggu karena orangnya yang moody-an dan tempat tinggalnya yang berada cukup jauh dari Pasar Minggu membuat ia jarang berbelanja di pasar tradisional Pasar Minggu.

Di pasar tradisional pembeli dan penjual saling bertemu dan melakukan intraksi langsung. Hal ini dapat menimbulkan kedekatan. Kedekatan tidak hanya terjadi antara pembeli dan pedagang namun, juga sesama pedagang dan sesama pembeli. Kedekatan yang terjadi ini membuat kita menyadari, pasar juga sebagai tempat interaksi sosial.

            Bahkan para pedagang yang berjualan pun tetap akrab berbincang-bincang dengan pedagang lain, jika tak ada pembeli. Tak terlihat adanya persaingan memperebutkan pembeli diantara mereka, karena mereka menyadari rezeki sudah ada yang mengatur.

            Kondisi seperti ini sangat jauh berbeda dengan pasar modern yang sering kali membanting harga, agar menarik perhatian pembeli dan bersaing. Bahkan letak antara pasar modern dengan Pasar Minggu ini bersebelahan.

            Tak dapat dimungkiri, pasar tradisional tetap memiliki pelanggan yang setia. Walau perlahan namun pasti, kini mereka bersaing dengan pasar modern yang menawarkan tempat belanja yang lebih bersih, lebih nyaman, tidak becek saat hujan, tidak memiliki bau busuk yang menyengat, serta ber-AC.
            Pasar tradisional yang bersih dan nyaman adalah dambaan setiap masyarakat, karena itu kita harus menyadarinya. Pasar tradisional memiliki peranan penting sebagai penggerak ekonomi masyarakat bahkan ekonomi negara. Terutama untuk masyarakat kelas menengah ke bawah.

Itulah keadaan di Pasar Tradisional Pasar Minggu, yang terletak di daerah Jakarta Selatan. Bagaimana dengan kondisi pasar di sekitar daerah Anda? Sudah bersih dan nyamankah?

Komentar

  1. Pasar tradisional di daerah saya juga sama aja si hehe. Ada perbedaan lah, walaupun sedikit

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ka, namanya pasar pasti ada bedanya walaupun sedikit hehe

      Hapus
  2. Nice πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  3. Bagus bangett kak tulisannya 😍 informatif sekali

    BalasHapus
  4. Wah kebetulan bngt sama juga sering ke pasar minggu. Setuju sama tulisan ini😁

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan

Feature Olah Rasa

Hidupku Ada di Mesin Jahit (Foto : Fitri) http://writerspapitri.blogspot.co.id/2017/09/feature-olah-rasa.html Singsing mentari yang semakin meninggi menunjukan seperempat waktu dari terbitnya sebelum kembali kedekapan senja. Meski sudah pukul sembilan pagi, namun cahayanya cukup menciptakan gerah yang mengusik kenyaman. Jalan demi jalan ditelusurinya, gang demi gang di masukinya, kampung demi kampung ia teriaki dengan sepeda motor. Terik matahari yang dapat mnghanguskan kulit tak lagi menjadi halangan untuk meneruskan pekerjaannya, menawarkan dagangan yang berbentuk jasa. Demi mencari nafkah untuk keluarga kecilnya ia rela berputar-putar dan  berteriak “Jaittt…   Jaittt…   Jaittt…!”. Dialah Asep Syaifuloh, berasal dari Karawang. Di usianya yang tergolong masih muda yaitu 26 tahun, ia tetap bekerja keras demi istri dan anaknya. Tetesan keringat yang bercucuran membasahi wajah dan seluruh tubuhnya tak lagi ia hiraukan. Ia memiliki seorang...

Feature Olah Rasa

Readers, aku mau posting tentang feature lagi nih, feature olah rasa yang ke 2. Sebelumnya berjudul Hidupku Ada di Mesin Jahit . Oiya tulisan ini juga udah dimuat loh, di cnnindonesia.com, rubrik student. Semoga bermanfaat & selamat membaca! 😊 Ibu, Kau Segalanya Bagiku Ilustrasi (Foto: yc0407206360/Pixabay) Jakarta, CNN Indonesia  -- Aku tak bisa hidup jika bukan karena kehendak Sang Pencipta dan perjuangan seorang ibu yang dianugrahi untuk merawatku. Bagiku ibu adalah segalanya. Kasih sayangnya yang tak terbatas bagai jurang tanpa dasar atau bumi yang tak berujung. Ibu juga bagai malaikat tanpa sayap. Tangis kesakitan di tengah malam, membelah kesunyian dan udara dingin yang menusuk kulit. Ibu mempertaruhkan nyawa untukku, walau harus mempertaruhkan hidup dan matinya. Rasa sakit yang tak terbayangkan terkalahkan oleh kebahagiaan saat terdengar suara bayi kecil nan mungil menangis. Aku adalah anak perempuan pertama dari empat bersaudara dan seka...

Raksasa Bali yang Labil

ilustrasi : dibuat sendiri oleh penulis Saat ini Gunung Agung, akan erupsi sedang jadi pusat perhatian orang banyak, di Indonesia maupun luar negeri. Bahkan media-media luar negeri juga menjadikan Gunung Agung sebagai bahan pemberitaan. karena statusnya yang sedang aktif (awas). Gunung ini juga berada di pulau yang sering dikunjung oleh turis lokal ataupun turis asing karena keindahan alamnya (wisata) yang luar biasa. Gunung Agung terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Gunung itu juga gunung tertinggi di Pulau Bali dengan ketinggian sekitar 3.142 mdpl (meter diatas permukaan laut), bisa disebut juga gunung raksasa di Pulau Bali. Beberapa waktu lalu Gunung Agung dinyatakan berstatus awas atau Level IV dan tak lama terdengar kabar, bahwa gunung tersebut turun statusnya, dari awas menjadi siaga (Level III). Gunung raksasa itu terlihat labil, sebab statusnya yang bergonta-ganti. Pasti penduduk yang tinggal di sekitar Gunung Agung binggung...